Tidak sedikit yang menafsirkan kata-kata “takkan kekurangan aku” dalam bacaan di atas dengan mengartikan sebagai pemenuhan kebutuhan akan makanan, minuman, pakaian, keuangan, dsb. Penafsiran seperti ini tidak salah, namun tidak lengkap.

Dengan mencermati ayat 2 dan 3, pemenuhan kebutuhan yang diberikan oleh Tuhan sebagai Gembala kita, meliputi 3 aspek. Pertama, aspek jasmani (ay. 2 – Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbingku ke air yang tenang). Kedua, aspek jiwa (ay. 3a – Ia menyegarkan jiwaku). Dan ketiga, aspek rohani (ay. 3b – Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya). Tidak memiliki salah satu saja dari ketiga aspek tersebut, maka kita masih belum masuk ke dalam kategori “takkan kekurangan aku”. Lihatlah kisah perumpamaan orang kaya yang bodoh (Luk 12:13-21). Harta berlimpah (jasmani terpenuhi), bisa bersenang-senang (jiwa terpenuhi karena ada banyak hiburan), namun secara rohani dia jauh dari hadirat Allah. Lihatlah beberapa jemaat Kristen di Laodikia (Wahyu 3:14-22), dengan pongah mereka berkata “tidak kekurangan apapun”, namun kerohanian mereka sedang sekarat karena hidup jauh dari kebenaran.

Karena itu biarlah kita tetap memiliki sikap hati yang terus tunduk di bawah penggembalaan Tuhan. SW

KELIMPAHAN ATAS SELURUH ASPEK HIDUP KITA, PASTI KITA ALAMI, SAAT KITA MAU DIPIMPIN FIRMANNYA.

Rabu, 28 September 2022

Takkan Kekurangan Aku

Baca: Mazmur 23:1-6

“Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1)

Jika Anda mengingingkan renungan harian silahkan chat  melalui kolom komentar, dengan mengirimkan alamat email. Kami akan membagikan renungan harian dalam bentuk softfile/pdf. 

RANGKAIAN ACARA KKR GUPDI 2020 DI 13 WILAYAH GUPDI INDONESIA & EROPA
KUNJUNGI YOUTUBE KAMI