VISI DAN MISI
MAJELIS SINODE 2021-2025

"Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." 1 Samuel 17:45

Visi :

Menyelaraskan diri dengan visi pendiri (founding father), melanjutkan visi ”Bawaku Lebih Tinggi” (Take Me Higher), dan menjadikan GUPDI sebagai organisasi yang terus berbenah diri untuk meraih kemajuan yang lebih baik. Bahkan di tengah kondisi yang sulit dan mustahil sekalipun tetap berani melangkah dengan ”Iman Tanpa Batas” (Unlimited Faith), sehingga secara internal dan eksternal semakin tangguh dan bertumbuh dalam menghadapi tantangan jaman, baik masa kini maupun masa depan, serta mampu mengemban mandat ilahi dengan baik dan utuh.

 

Misi :

  • 1. Konsisten dalam iman kepada Kristus dan pengajaran Alkitab, serta bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus yang adalah Kepala.

  • 2. Meningkatkan gaya hidup yang visioner dan misioner

  • 3. Terus solid menjaga keseimbangan, kesatuan dan kesalingtergantungan

  • 4. Mengoptimalkan pembinaan dan pemberdayaan potensi yang ada

  • 5. Dinamis dalam kegiatan, tertib dalam penatalayanan dan pelayanan

  • 6. Kesejahteraan hidup hamba Tuhan dan jemaat yang lebih baik

  • 7. Berkemenangan menghadapi tantangan masa depan

  • 8. Meningkatkan jejaring dan kemitraan, baik dengan lembaga aras nasional, gereja lintas denominasi, lembaga pelayanan, maupun unsur organisasi pemerintah dan masyarakat lainnya (dalam maupun luar negeri)

  • 9. Memberi dampak (pengaruh) pada kehidupan di sekitarnya, berperan sebagai agen perubahan masyarakat, ambil bagian dalam transformasi (perubahan) dunia

 

Deskripsi/Penjabaran Misi :

  1. Menindaklanjuti aspirasi dan masukan dari gereja-gereja anggota, serta membantu mencarikan solusi bagi permasalahan yang ada.

  2. Bersama-sama anggota merancang, merealisasikan dan menyukseskan program-program yang diagendakan

  3. Mengadakan fellowship secara rutin dan bergiliran dengan seluruh Wilayah dan Gembala Jemaat, dalam rangka meningkatkan kebersamaan dan kesehatian, serta menyatukan visi, misi dan persepsi dalam merealisasikan program kerja

  4.  Meningkatkan peran Majelis Wilayah untuk kelangsungan dan kemajuan pelayanan di wilayah

  5. Mengadakan seminar-seminar, ceramah maupun pelatihan/training centre untuk meningkatkan kaderisasi SDM, maupun wawasan pengetahuan para hamba Tuhan (theologis maupun praktis), sehingga mampu menghadapi dan mengantisipasi perkembangan jaman.

  6. Mengadakan seminar-seminar, ceramah, RC, maupun pelatihan/training centre untuk memenuhi kebutuhan jemaat dalam berbagai tingkatan

  7. Untuk point 5 dan 6 dilakukan secara sinodal maupun bekerjasama dengan wilayah-wilayah

  8. Mengevaluasi, merencanakan dan mengembangkan program misi yang ada, dengan penekanan pembukaan dan pengembangan ladang misi baru.

  9. Meningkatkan jejaring dengan mitra pelayanan, baik dalam negeri maupun luar negeri

  10. Menyelesaikan AJB dan balik nama gedung kantor sinode, serta berusaha menjualnya dengan harga yang terbaik, untuk selanjutnya mencari lokasi kantor sinode yang lebih representative

  11. Membeli lahan yang cukup luas (Jateng atau Jatim) untuk menjadi base camp/lokasi pelayanan terpadu (TC pertanian / peternakan / perkebunan / pertukangan, pelatihan, seminar, perumahan Gembala Jemaat emeritus, unit usaha dan investasi)

  12. Memikirkan dan mencari peluang untuk mendapatkan lahan maupun perintisan gereja di Kalimantan Timur sebagai calon ibukota baru Indonesia.

  13. Meningkatkan bantuan-bantuan (pembangunan, diakonia, pendidikan), sesuai kemampuan keuangan sinode

  14. Meningkatkan penerapan disiplin organisasi beserta sanksinya sesuai Alkitab dan Tata Gereja

  15. Merekrut tenaga fulltimer di bidang kesekretariatan (menguasai administrasi dan IT)

  16. Melibatkan para senior (mantan MS, Gembala Jemaat senior), untuk membantu memberikan masukan dan pertimbangan dalam segala hal demi kemajuan pelayanan secara sinodal

  17. Mempersiapkan generasi X / milenial untuk mengambil peran dalam kepemimpinan, baik secara lokal, wilayah maupun sinodal

  18. Mempersiapkan kepemimpinan masa bakti berikutnya (pusat maupun wilayah)

  19. Menyelesaikan target pelayanan 2021-2025

 

Refleksi Visi “Iman Tanpa Batas” (Unlimited Faith)

         

 

 

 

 

 

 

 

menantang bangsa pilihan Allah (1 Samuel 17:26). Pada masa itu, kekalahan suatu bangsa menandakan kekalahan dewa yang mereka sembah pula. Daud yang tidak memiliki pengalaman berperang tetap memiliki rasa percaya yang besar di dalam Tuhan, walaupun banyak orang meragukannya (1 Samuel 17:28).Tantangan memang bisa membuat iman goyah, namun kepercayaan pada Tuhan akan membuat kita memiliki kekuatan ekstra. Daud adalah salah satu tokoh Alkitab yang harus meninggalkan zona nyaman (comfort zone) hidupnya dalam menjalani panggilan Tuhan.

         Seperti halnya Daud, sebagai hamba Tuhan seringkali kita juga harus berani keluar dari kenyamanan, untuk menghadapi tantangan hidup dan pelayanan yang sulit secara manusia. Kita menyadari kelemahan dan keterbatasan yang kita miliki. Oleh karena itu kita memerlukan relasi yang erat dengan Tuhan, supaya memiliki iman yang kokoh dan tanpa batas di dalam Tuhan.

          Daud tidak memandang situasi yang menantang itu dengan cara pandang manusiawinya, melainkan dengan cara pandang Allah. Dia tahu, bahwa kuasa Tuhan jauh melampaui kuasa apapun yang dimiliki oleh manusia. Saat menghadapi Goliat, Daud tidak berpikir bahwa musuhnya itu sangat besar. Ia hanya tahu, dirinya diperintahkan untuk menghadapinya. Hanya dengan batu kecil, iman dan doa kepada Allah yang Mahabesar, ia pun berhasil melumpuhkan raksasa itu. Kekuatan dari Tuhanlah yang memberinya keberanian untuk maju bertarung tanpa baju perang, pedang, tombak, atau lembing. Ia yakin, bahwa siapa pun yang ada di hadapannya tidak akan sanggup mengalahkan kuasa Tuhan Allah yang ia sembah.

         Bagaimana dengan kita? Adakah kita merasa takut dan cemas hati menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita? Apakah itu masalah keuangan, masalah keluarga, atau masa depan? Belum lagi ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai. Namun coba renungkan dengan sungguh, seberapa besar semuanya itu dibandingkan dengan kuasa Tuhan? Saat kita memiliki Unlimited Faith .. iman yang tanpa batas kepada Sang Pemberi Hidup, kita akan mampu menghadapi apapun.  Kita akan memiliki keberanian ekstra bersama Tuhan untuk menghadapi segala sesuatu, termasuk hal-hal yang berada di luar batas kemampuan kita. Pada saat seperti inilah Tuhan akan menunjukkan mujizat-Nya. Dengan percaya penuh kepada-Nya, kita akan senantiasa menang

Mungkin saat ini kita juga sedang menghadapi kesulitan dan tantangan besar dalam pelayanan, baik di tingkat lokal, wilayah maupun sinodal. Kita berpikir bahwa kita akan stagnan dan tidak bisa apa-apa, apalagi merealisasikan program-program yang besar. Kita seakan tidak memiliki pengharapan lagi dan menjadi loyo. Ingatlah! Tuhan memiliki cara yang luar biasa untuk menolong kita, bahkan dengan menggunakan hal-hal yang terlihat sepele. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah keberanian untuk melangkah, disertai dengan iman yang besar, iman tanpa batas.. Unlimited Faith! Selebihnya serahkan kepada Tuhan! Yesus kita tetap sama, demikian juga dengan kuasa-Nya.  Kita akan melihat mujizat Tuhan dinyatakan dalam pelayanan kita. Marilah kita terus berusaha mendapatkan pengalaman iman bersama Tuhan, supaya GUPDI semakin teguh, tangguh dan bertumbuh.         

We love GUPDI!  Then, now and forever.  Salam sehat dan tetap semangat!

Tuhan Yesus Sang Raja Gereja memberkati.

 

“Iman adalah kemampuan untuk mempercayai perjalanan yang panjang dan jauh di dalam masa depan yang berkabut. Ini bisa kita lakukan dengan memercayai firman Tuhan dan mengambil langkah selanjutnya”

(Joni Eareckson Tada)

Suatu kali, bangsa Filistin dan Israel saling berhadapan dan siap menyerang.  Selama empat puluh hari, Goliat, sang prajurit raksasa wakil dari Filistin, terus menantang bangsa Israel. Saul raja Israel, berpikir tidak ada harapan lagi untuk bisa memenangkan pertempuran melawan Filistin.

          Kemudian, Daud, anak Isai, tiba di perkemahan Israel dan merasa sangat gusar mendengar kesombongan Goliat yang

Dalam kasih dan penyertaanNya,

Pdt. Yunus Rahmadi, SH., M.A.C.E
Ketua Sinode